BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Senin, 29 Juni 2009

Kasus Pencurian di Hotel Tim Mesir Afrika Selatan Ogah Dipojokkan


Kasus pencurian di hotel tim Mesir yang terjadi setelah kemenangan sensasional The Pharaohs 1-0 atas Italia pada 18 Juni berbuntut panjang. Saling tuding terjadi antara tim nasional Mesir, panitia keamanan Piala Konfederasi 2009, media non-Afrika, serta LOC (Local Organizing Committee/Komite Panitia Lokal) Piala Dunia 2010.

Peristiwa pencurian dompet lima pemain Mesir, yang total berisi uang sekitar dua ribu dolar AS itu semakin mencoreng nama Afrika Selatan sebagai salah satu negara dengan angka kriminalitas tertinggi di dunia. Paling tidak itu di mata media non-Afrika. Peristiwa ini seperti dimanfaatkan untuk memojokkan Afsel. Bagaimana mungkin negara ini siap menjadi tuan rumah PD jika tim peserta pun bisa kemalingan?

LOC Piala Dunia 2010 tidak terima Afsel dipojokkan karena kasus ini. “Persepsi media asing sangat keliru. Nilai kami dari apa yang terjadi di lapangan, bukan dari apa yang Anda pikirkan. Jangan membuat komentar atas dasar rumor, persepsi, atau ima­jinasi,” sergah CEO (Chief Executive Officer) LOC South Africa 2010, Danny Jordaan.

Menurut Jordaan, peristiwa seperti ini bisa terjadi di mana saja. Jangan lantas karena terjadi di Afsel, maka media asing menuduh Afsel tidak aman. “Katakan kepada saya, di negara mana yang tidak ada kejadian kriminalitas,” tutur Jordaan lagi.

Polisi Afsel yang menangani kasus ini mengaku sudah mela­ku­kan semua yang bisa diperbuat untuk menemukan pelaku pencurian. Mereka memanggil banyak saksi, bahkan juga mela­kukan tes polygraph alias tes kebohongan terhadap para pegawai hotel mengingat Mesir mengklaim yang bisa memasuki kamar mereka hanya staf hotel.

“Dengan pengaturan keamanan yang dilakukan LOC, tidak ada kemungkinan orang luar bisa memasuki kamar para pemain kecuali pegawai hotel. Mereka harus diperiksa secara serius,” sebut pemimpin delegasi The Pharaohs, Mahmoud Taher.

Dugaan Penjaja Seks

Tapi, polisi juga meminta agar Mesir tidak membesar-besarkan kasus ini. Apalagi menurut polisi, para pemain Mesir sendiri yang meminta masalah. Polisi mengeluarkan pendapat itu berdasarkan klaim media Afsel bahwa delapan pemain Mesir men­datangkan lima orang pelacur untuk berpesta pascakemenangan atas Italia. Para penjaja seks undang­an pemain Mesir inilah yang diduga menjadi pelaku pencurian.

“Jika Anda membawa masuk orang ke dalam hotel, Anda harus bertanggung jawab sendiri atas orang itu. Ketika mereka merusak keamanan Anda, jangan menyalahkan siapa-siapa. Polisi tidak bisa mengikuti Anda sampai ke dalam kamar."

Itu komentar yang dikeluarkan Wakil Menteri Kepolisian, Fikile Mbalula. “Jangan melebih-lebihkan keadaan. Kejadian ini bukan ekspresi global atas apa yang terjadi di Piala Konfederasi 2009 atau apa yang akan terjadi di Piala Dunia 2010."

Disalahkan seperti itu, Mesir jelas tidak terima. “Kami menolak semua yang diterbitkan media Afsel. Tudingan itu memalukan, tidak terhormat, dan benar-benar keluar jalur. Kami datang dari sebuah negara yang sangat religius. Para pemain juga sangat religius dan kami pun memiliki sebuah tim yang punya kedisiplinan,” ucap Taher.

“Kami menyewa 40 kamar yang saling berdekatan. Semua kamar memiliki kunci yang terkom­puterisasi. Keamanan LOC bahkan tidak memberi izin kepada keluarga delegasi untuk memasuki lantai tempat kami berada. Kami 100% yakin tudingan media Afsel tak pernah terjadi. Tidak ada pela­cur yang datang ke sini,” ujarnya.

Taher menyatakan Mesir berniat akan menuntut dua koran yang dianggap memulai rumor penjaja seks ini, City Press dan Sunday Independent. Taher meminta dua surat kabar tersebut memublikasikan pernyataan minta maaf di halaman mereka.

Sumber: Tabloid Bola

0 komentar: